Sabtu, 23 April 2016

Chapter 7 Life Story

Ikatan Pertemanan
Rico: "(Mendekati jejak darah tersebut) (tappp...tappp...tappp)
Sebastian: "(Berkata dalam hati) sekarang..!"
Sebastian dan Rico pun saling menyergap
Rico: "(Kaget) kau...! (Menodongkan pisaunya ke lehernya Sebastian)"
Sebastian: "(Kaget) (Menodongkan pisaunya ke lehernya Rico)"
Intan: "!"
Rico: "Sebastian..! (Menjauhkan pisaunya dari leher Sebastian)"
Sebastian: "Uh... Rico (Menjauhkan pisaunya dari leher Rico)"
Intan: "(Senang) akhirnya kita bertemu lagi Sebastian"
Rico: "Sebastian..! Apa yg terjadi dengan lukamu itu ?!"
Sebastian: "Uh.. ini ?! (Melihat luka darah yg ada dipinggangnya) aku melakukannya karena keinginanku sendiri kok"
Rico: "Keinginanmu sendiri ?! Apa maksudnya ?!"
Sebastian: "Iya, karna tadi aku berniat ingin mengikuti Iblis itu, lalu tubuhku pun terdiam setelah kamu pingsan. Lalu aku pun mendengar suatu ocehan dia namun dengan suara kecil. Setelah aku mendengar perkataannya itu, aku pun membuat luka dipinggangku sendiri dengan cara. Menggores bagian perut pinggangku dengan pisau ! (flashback)"
Sebastian: "Ri...co..! Tu..tubuhku ! Tidak bisa bergerak..!"
Skull: "Cihhh.. anak yg hanya bisa berlagak saja ! Sia2 saja mereka melakukan ini. Karna hanya dirinya yg memutuskan akan pergi atau tidak !" "(Nada pelan) Karna aku akan menghancurkan dunia ini dan memanfaatkan anak itu, tunggu aku Di..cky !"
Sebastian: "(Kaget dan berkata dalam hati) Ja...jangan2 ada sesuatu yg aneh dengan Dicky ?!"
Skull: "(Menghilang) (wushhh !)"
Sebastian: "(Kaget dan berkata dalam hati)" di..dia menghilang..!" "Oiya dia kan Iblis. Sekarang apa yg harus aku lakukan saat ini ?! A..aku tidak bisa pergi meninggalkan Rico begitu saja, aku harus menulis sesuatu...! Tapi, bagaimana caranya ?!"
Sebastian pun berpikir bagaimana dia bisa menulis pesan
Sebastian: "Hanya cara ini yg bisa kulakukan. Dengan menggerakkan tubuhku perlahan2 saja aku pasti bisa (mengambil pisau) (membuka setengah bajunya dan berkata dalam hati) hanya ini yg bisa kulakukan..! Demi menulis sebuah pesan untukmu (melihat Rico yang sedang pingsan) Rico..! (Ahhhhh...!) (Crakkkk)"
Terlihat sebuah bayangan berkobar yg menunjukkan bahwa Sebastian sedang menggores pinggangnya sendiri
Sebastian: "(Darah bercucuran) (nafas terengah2) A.. aku harus bisa melakukannya, wa..walaupun keadaanku seperti i..ini (menuliskan sebuah pesan dengan darah) (tersenyum) (berkata dalam hati) selamat tinggal Rico. Sampai bertemu kembali (bangun dan pergi berjalan keluar perlahan2)"
(Kembali seperti semula)
Rico: "(Memukul Sebastian hingga terjatuh) (bukkk..!) (Marah) bodoh..! Apa yg kamu lakukan ?!"
Sebastian: "(Wajah menyesal)"
Intan: "(Sedih)"
Rico pun memukul2 Sebastian sambil berkata
Rico: "(Memukul2 Sebastian) (bukkk...bukkk) Bodoh. Apa yg kamu lakukan, jika terjadi sesuatu kepada dirimu bagaimana ?! Apakah ini yg disebut pengorbanan diri sendiri ?! (Bukkk...bukkk) pikirkan itu baik2..! Karna diriku tidak ingin kehilangan teman terbaikku..! (Berteriak)"
Intan: "Rico Hentikan..! (Memegang tangan Rico)"
Rico: "(Takkk) (Menoleh kebelakang) Apa yg kamu lakukan Intan ?!"
Sebastian: "(Sedih)"
Intan: "(Air mata berlinang) sudah hentikan..! Apakah dengan cara memukulnya seperti itu, lukanya Sebastian bisa sembuh ?! Tidak Co..! Hentikan semua ini..!"
Rico: "(Kesal) Cihhh.. baiklah, sekarang kamu obati dia"
Intan: "Hmmm.. (Mengobati Sebastian)"
Sebastian: "(Duduk)"
Intan: "(Mengobati Sebastian)"
Rico: "(Berdiri) Bas, dengarkan aku baik2. sebenarnya tidak ada salahnya kamu berkorban untuk orang lain, namun cara mu itu salah, karna Pengorbanan itu tidak harus menggunakan nyawa, melainkan bisa menggunakan seluruh kekuatan perasaanmu"
Sebastian: "(Menyesal) I..iya. Aku mengerti"
Rico: "(Tersenyum lebar) baguslah kalau kamu mengerti. Uh,, iya Tan. Ruang pengobatan Dicky disebelah mana ?"
Intan: "Di sebelah kelas ini Co"
Rico: "Oh..! Jadi disitu, setelah ini kita ke ruangan sebelah"
Intan: "Iya"
Intan: "Sudah selesai. Lebih baik kamu jangan kebanyakan bergerak dulu Bas"
Sebastian: "(Tersenyum) terima kasih Tan"
Intan: "Iya, sama2 (tersenyum) (bangun dan menuntun Sebastian)"
Rico: "Yoshhhh...! Sekarang kita temui Dicky. Kalian, lebih baik kalian rahasiakan ini kepada Dicky. Kita akan biarkan dulu dia ingin bertindak sejauh bagaimana"
Intan: "Hmmmm..."
Sebastian: "Baiklah, aku mengerti"
Rico: "Yoshhhh... ayo..!"
Intan dan Sebastian: "Iya..!"
Mereka pun menuju ruangan pengobatan Dicky
Intan: "(Membuka pintu) (cittt...)"
Dicky: "Uh.. kalian ya teman2. Sepertinya kalian terluka sangat parah"
Rico: "Uh.. luka kami bukanlah masalah, benar kan Sebastian ?"
Sebastian: "Uh.. iya"
Dicky: "(Bangun lalu berdiri) sudah jam segini ya (melihat jam tangan)"
Waktu pun menunjukkan pukul 1 malam
Dicky: "Teman2 sebaiknya kita pulang, karna sekarang aku sudah baik2 saja"
Rico: "Tapi. Bagaimana dengan tempat ini ? Karna tempat ini sudah hancur, bahkan ditempat kita bertarung tadi temboknya sudah hancur bahkan terbakar..!"
Dicky: "Hmmm.. abaikan saja dulu, jika penjaga sekolah ini bertanya tentang hal2 yg masuk akal seperti tempatnya hancur atau terbakar, maka..."
Sebastian: "Maka apa ?!"
Dicky: "Maka... anggap saja tidak terjadi apa2 (berjalan keluar) (tappp..tappp..tappp) teman2 sebaiknya kita pulang. Karna waktu sudah larut malam"
Rico: "(Kesal) baik. Sebastian, Intan ayo kita pulang. Jika penjaga itu bertanya hal2 yg masuk akal anggap saja tidak terjadi apa2"
Sebastian: "Baiklah"
Intan: "Iya"
Dicky: "Ayo (berjalan, berpikir, dan berkata dalam hati) kata2 yg dibicarakan makhluk itu sungguh sangat tidak masuk akal. (Flashback)"
Dicky pun mengingat kejadian yg lalu
(Suara decitan pintu) (citttt...!)
Dicky: "Apakah itu kamu Intan ?"
Skull: "Bukan..!"
Dicky: "(Kaget) ja..jangan2 itu kamu ! Iblis ?!"
Skull: "Iya, ini aku !"
Dicky: "(Ketakutan) Ma..mau apa kamu datang kesini ?!"
Skull: "Aku mau ingin berbicara sebentar denganmu dulu !"
Dicky: "! Berbicara ?!"
Skull: "Iya, aku ingin memberitaukanmu bahwa semua temanmu selamat namun mereka terluka sangat parah"
Dicky: "(Kaget)....! Jangan bercanda kau Iblis..! Tidak mungkin temanku dikalahkan olehmu begitu saja..!"
Skull: "Sekarang kamu perhatikan dan rasakan dijendela itu (menunjuk jendela) rasakan baik2, jika perasaanmu sudah terikat dengan perasaan teman2mu, pasti kamu bisa merasakannya"
Dicky pun merasakan apa yg dikatakan oleh Skull
Dicky: "(Kaget dan berkata dalam hati) perasaan ini... jangan2..! Seba-"
Skull pun berbicara kembali dengan Dicky
Skull: "Apakah sekarang kamu sudah merasakannya ?"
Dicky: "Cihh... ya, aku merasakannya namun hanya satu orang saja"
Skull: "Walaupun hanya satu orang seharusnya kamu bersyukur"
Dicky: "Bersyukur ?!"
Skull: "Iya, karna Perasaan seorang teman itu lebih kuat dibandingkan apapun"
Dicky: "Apa maksudmu ?"
Skull: "Ah.. tidak apa2, sekarang bagaimana dengan keputusanmu itu ?"
Dicky: "Oh itu (murung) baiklah akan kulakukan"
Skull: "Bagus jika kamu sudah mengerti, aku akan menunggumu didunia ku nanti ! Dan ingat kata2 tadi yg sudah kukatakan kepadamu"
Dicky: "Iya"
Skull: "Yasudah, aku akan menunggumu (berjalan keluar) (tappp...tappp)"
Dicky: "Iya"
Skull: "(Berhenti) ada satu hal lagi yg ingin kukatakan kembali kepadamu. Ingatlah ini baik2..! (Bisik2)"
Dicky: "(Kaget)"
Skull: "(Kembali berjalan) yaudah sampai jumpa kembali (membuka pintu) (cittt...) (menutup pintu) (duakkk)"
Dicky: "(Murung dan sedih)"
(Keadaan pun kembali seperti semula)
Rico: "Nah.. sekarang kita sudah hampir menuju pintu gerbang"
Intan: "Ummm.. teman2 aku kan sudah bilang jika kalo kita pulangnya tidak sampai larut malam (sedih)"
Sebastian: "Uhh, oiya. Maaf2 Intan, jika tidak ada kejadian tadi pasti kita sudah pulang"
Intan: "(Sedih) Ummm..."
Dicky: "(Bingung dan berkata dalam hati) perasaan yg terikat oleh teman2 ya"
Rico: "Uh.. Dicky, kenapa kamu diam saja daritadi ?"
Dicky: "Mm.. tidak ada apa2 Co.."
Rico: "Yaudah"
Mereka pun sampai dipintu gerbang
Sebastian: "Uh.. Pak Sandy dimana ?!"
Rico: "Entah... (masuk kepos satpam)"
Dicky: "Co, apakah dia ada didalam ?"
Rico: "(Keluar dari pos satpam) tidak, dia tidak ada didalam sana"
Intan: "Ummm.. anu, apakah terjadi sesuatu dengan Pak Sandy ?"
Sebastian: "Mmmm.."
Tiba2 saja semak2 yg ada dibelakang pos bergerak2
(Suara semak2) (srkkk..srkkk)
Sebastian: "Siapa itu ?!"
(srkkk..srkkk) (srkkk..srkkk)
Lalu seekor Kucing pun keluar dari situ
(Suara Kucing) (ngeonggg..!)
Rico: "?! (Tampang marah namun konyol) ternyata hanya Kucing..!"
Intan pun mendekati semak2 tersebut
Intan: "(Kaget) ?!"
Sebastian: "Intan, ada apa ?!"
Sebastian, Dicky, dan Rico pun mendekati Intan
Intan: "Ini kan ?!"
Sebastian, Dicky, Rico: "Topi satpam milik Pak Sandy...!"
Apa yg terjadi pada chapter selanjutnya ?
Pak Sandy pun menghilang tanpa jejak, dan yg tersisa hanya topinya saja. Apakah ada musuh yg lainnya lagi ?
Ikuti terus kisah Life Story Minggu depan...
Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar